Menu Tutup

3 Sastrawan Indonesia raih Penghargaan SEA Write Award

sea write awards

SEA Write Award merupakan penghargaan bagi penulis dan penyair di Asia Tenggara. Penghargaan tersebut diberikan setiap tahun sejak 1979 sampai dengan sekarang. Ragam tulisan yang termasuk dalam klasifikasi penghargaan S.E.A. Write Awards adalah puisi, cerita pendek, novel, esai, dan naskah drama.

Sudah berlangsung sejak 1979 untuk diberikan kepada para penyair dan penulis aktif di kawasan Asia Tenggara. Upacara ajang penghargaan ini diadakan di Bangkok, dengan anggota dari keluarga kerajaan Thailand memimpin. Penghargaan ini digagas oleh manajemen Hotel The Oriental di Bangkok.

Dari Badan Bahasa Kemdikbud menyatakan ada 3 Sastrawan Indonesia yang juga mendapatkan penghargaan ini. Ketiga sastrawan-sastrawan tersebut ialah:

SEA Write Awards untuk Leila S Chudori

Perempuan yang aktif dalam dunia penulisannya ini sudah melalang buana dalam dunia literasi. Ia juga aktif menulis cerpen kala remaja di majalah seperti Gadis, Hai. Bahkan ia termasuk dikatakan jurnalis juga dalam media nasional. Menulis novel pun tak terlewatkan dalam perjalanannya, termasuk Novel sastra Laut Bercerita ini.

Dikutip dari Badan Bahasa Kemdikbud, Leila S. Chudori aktif dalam menulis cerpen, selain itu ia juga sering menulis cerita bersambung (cerber). Pada saat masih remaja, Leila sudah menghasilkan beberapa buku kumpulan cerpen, seperti Sebuah KejutanEmpat Pemuda Kecil, dan Seputih Hati Andra.

Di tahun ini, Novelnya Laut Bercerita berhak mendapatkan penghargaan Southeast Asian Writers Award (SEA Write Award) 2020 beserta 2 sastrawan lainnya dari Indonesia.

Laut Bercerita merupakan novel yang ditulis oleh Leila S. Chudori setelah Novelnya yang berjudul Pulang. Novel ini berkisah tentang sebuah persahabatan, keluarga yang mencari penjelasan atas kematian anaknya setelah bertahun-tahun tanpa kabar, bahkan hingga kisah percintaan.


Baca juga:


Dibumbui hal nyata, namun tetap saja karya ini dibuat Leila S. Chudori menjadi Fiktif dalam novelnya. Riset dalam pembuatan novel ini dimulai tahun  2008 ketika Tempo menerbitkan edisi khusus Soeharto hingga akhirnya terbit pada tahun 2017.

SEA Write Awards untuk Eka Kurniawan

Perjalanan kepenulisannya dimulai dari skripsinya yang diterbitkan menjadi buku dengan judul ‘Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis’. Buku ini merupakan tugas akhir Eka Kurniawan selama menempuh kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Diterbitkan pertama kali sebagai buku tahun 1999 oleh Yayasan Aksara Indonesia. Sempat diterbitkan ulang tahun 2002 oleh Penerbit Jendela, hingga akhirnya sejak tahun 2006, buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Karya fiksi pertamanya ialah sebuah kumpulan cerita pendek, diterbitkan setahun kemudian: Corat-coret di Toilet (Aksara Indonesia, 2000). Hingga karya yang membuatnya ramai diperbincangkan yaitu Cinta Itu Luka.

Sebelumnya, Eka pernah menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 dari Kemdikbud. Melalui akun Facebook pribadinya, Eka menyampaikan bahwa keputusannya itu sudah bulat. Ia menegaskan, sikap penolakannya itu sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakseriusan pemerintah dalam menghargai pekerja seni dan budaya kala itu. Terutama dalam kesustraan di tanah air ini.

Di tahun ini, Novelnya Eka Kurniawan berjudul O berhak mendapatkan penghargaan Southeast Asian Writers Award (SEA Write Award) untuk tahun 2019. Novel tersebut berkisah tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan Kaisar Dangdut.

Baca juga

NoveL O berkisah tentang seekor monyet bernama O yang mengenang sebuah keributan yang dilakukan oleh kekasihnya yang bernama Entang Kosasih. Monyet ini digambarkan dengan tingkahnya yang urakan dengan mimpinya yang setinggi langit tanpa melihat daratan ini. O berkeinginan menjadi manusia, mengikuti Armo Gundul, kisah monyet terdahulu yang pernah menjadi salah satu monyet yang dapat berubah menjadi manusia.

SEA Write Awards untuk Nirwan Dewanto

Nirwan Dewanto, kini masih aktif dalam Komunitas Salihara, yang didirikannya bersama sastrawan legenda tanah air, Goenawan Mohammad dan seniman Jakarta lainnya. Nirwan Dewanto adalah seorang sastrawan yang menulis dan menyair. Seperti yang ia ungkapkan di Ubud Writers and Readers Festival, Nirwan juga pernah menjadi aktor pertama dan terakhir kalinya dalam film biopik Soegija yang saat itu disutradarai oleh Garin Nugroho pada tahun 2012. Tahun ini, Kumpulan essainya yang berjudul ‘Satu Setengah Mata-mata’ berhak mendapatkan penghargaan Southeast Asian Writers Award (SEA Write Award) untuk tahun 2018.

Kumpulan essai Satu Setengah Mata-Mata berjalan bebas di antara seni rupa dan sastra, antara fiksi dan non-fiksi, antara “antropologi” dan catatan autobiografis, antara telaah seni dan nalar puitik, antara pembacaan-dekat dan pembacaan-jauh. Buku ini merangkum tulisan-tulisan Nirwan Dewanto sebagai pengulas seni di tengah masyarakat yang gemar mentimur-timurkan diri, penyelia yang merekam keterpautannya dengan proses kekaryaan para senirupawan. Ia juga menjadi pegandrung yang mencatat fragmen-fragmen riwayatnya yang berjalinan dengan seni dan gejala rupa. Karena seperti yang diketahui, Nirwan aktif dalam menjadi kurator seni rupa dan seni pertunjukkan.

Selamat membaca dan memperlajari karya-karya dari sastrawan indonesia yang telah diakui dunia. Bahkan karya mereka telah di terjemahkan ke bahasa lainnya. Semua ini menjadi tolak ukur juga dari pemerintah untuk mempertimbangkan kesusastraan Indoneisa. Dengan tidak hanya memanfaakan momentum sektor Penerbitan Buku dalam poin Ekonomi Kreatif saja. Lebih dari itu, memperhatikan para penulis dan penyair Indonesia serta memperhatikan masukan dari sastrawan-sastrawan tanah air.


Salam kreatif selamat

beart.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *