Menu Tutup

5 Novel Sastra Karya Novelis dan Sastrawan Terkenal

Novel sastra cover beart

Novel merupakan salah satu wujud atau bentuk dari karya sastra. Novel merupakan karangan prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang/figur/tokoh dengan orang yang berada di sekelilingnya dan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Penulis novel disebut Novelis.

Banyak sekali buku bancaan untuk asupan kita selama dirumah atau mungkin mengisi kekosongan kepala kita. Aneka Novel Sastra bisa dicoba untuk menyuapi akal, seperti karya Novelis Eyang Pramoedya dan Rintik Sedu. Beberapa referensi dibawah ini dirasa cukup standard dan tidak sulit untuk dipahami.

Dipungkiri atau tidak, kesan Sastra akan lahir dengan pengalaman kita dalam mempelajari karya sastra. Tak terbatas pada itu, kesenian dan kebudayaan yang kita awasi dan tangkap dapat ikut mempengaruhinya.

Berikut referensi karya Sastra yang tergolong tidak berat namun perlu untuk dipertimbangkan dalam mengarunginya. Seru dan amat berpengaruh mungkin untuk bahan bacaan dan ilmu pengetahuan kita.

5 Novel sastra karya novelis terkenal, dapat dijadikan inspirasi untuk terjun ke dunia sastra

1. Novel Sastra ‘Gadis Pantai’

Novel Gadis Pantai Pak Pramoedya
Gadis Pantai – Pramoedya Ananta toer

Novel sastra Eyang Pramoedya Ananta Toer atau yang biasa dipanggil Pram menyebut tokoh dalam buku ini gadis pantai, seorang gadis desa yang harus rela dipersunting oleh Bendoro atau Priyayi. Dengan latar belakang zaman Hindia-Belanda, gadis ini masih berumur belia dan harus siap menjadi permaisuri dari Bendoro. Karena hutang pelik dari keluarganya, sebuah keterpaksaan yang tak biaa dihindari pada eranya.

Kisah ini tergolong sebuah cerita klasik hari ini yang sebenarnya sudah kita jumpai dahulu kala. Membaca buku ini seperti mengulas ulang cerita bersejarah yang dapat kita petik hikmahnya. Pram amat menyukai wanita dan memuliakan mereka, tak jelas dengan pasti memang gadis pantai sebenarnya. Namun banyak argumen yang merujuk pada neneknya sendiri.

…Macan sakit saja, biar sudah lemas kalau di usik-usik terus, tentu akan melawan..

Sosok wanita ini tanpa nama dan hanya dipanggil dengan gadis pantai. Berlatar tempat di daerah pesisir Rembang, daerah daerah tempat ibunya berasal. Dekat sekali dengan kehidupan sekitarnya.


Baca juga:


Begitulah Pram, menceritakan dengan dekat kondisi sosial yang ada di sekitarnya. Sehingga karya-karyanya sangat dekat dengan para pembacanya di tanah air.

Membaca karya Pram membuat kita harus Berani. Karena acap kali ia selalu mengajak pembacanya untuk Berani. Untuk menyuarakan suara kebenaran itu butuh keberanian yang tinggi. Membaca karya Pram, selamat datang dalam balutan pesan Berani dari Pram.

2. Novel Sastra ‘Semasa’

Novel Semasa
Novel sastra “semasa” Maesy & Teddy

Novel Sastra Maesy dan Teddy lewat karyanya ‘Semasa’ adalah kolaborasi penulis novel yang berhasil menyusun kisah keluarga sederhana. Mereka membuat gaya bahasa dan narasi yang sederhana, namun kisah-kisah sederhana itu menjadi bukan cerita biasa. Pilihan hidup para tokohnya menjadi teramat nyata dengan suara-suara yang punya daya dan gema. Sekali lagi, hadir sebuah novel yang  menyajikan konsep keluarga idaman yang bahagia dalam rangka rumahnya.

“Banyak orang yang pergi ke sebuah tempat baru, desa kecil di negeri jauh misalnya, menghabiskan waktu di sana beberapa saat, menjadi dekat dengan orang yang ditemui, lalu menetapkan keyakina untuk kembali lagi suatu hari. Janji yang –tentu saja– tak pernah diwujudkan. Kedekatan melankolis terkikis, sedikit demi sedikit, begitu kehidupan sesungguhnya mulai dijalani.” – halaman 119 – 120.”

Terdapat beberapa tokoh di dalam buku ini seperti sosok Bapak, Paman Giofridis, Bibi Sari, serta Coro dan sepupunya bernama Sachi. Konsep keluarga yang berada di Rumah Pandanwangi menyimpan banyak kenangan yang menyenangkan.

Dalam buku ini disuguhkan juga konflik keluarga hingga kisah kelam era Orde Baru Pemerintah Indonesia. Karena bapak dari Coro yang mana merupakan mahasiswa Sastra yang hidup dalam carut marut peristiwa tahun ’98.

Teddy dan Maesy sebenarnya memang menyuguhkan cerita sederhana, tentang keluarga sederhana. Diksi yang tepat atas kolaborasi dua pendiri Post Santa ini disuguhkan baik dalam buku ‘Semasa’. Buku ini cocok untuk mengajak kita berkelana dalam museum masa lalu. Diperlihatkan dari sepasang sepupu yang asik berkelana bersama keluarganya.

3. Novel Sastra ‘Kata’

Novel Kata Rintik Sedu Tsana
Novel sastra rintik sendu

Untuk yang terjebak di masa lalu, untuk yang sedang melangkah ragu, buku ini akan membantumu beranjak dari kata yang lalu, ke kata yang baru. —

Rintik Sedu.

Novel ‘Kata’ ini menceritakan kehidupan Binta yang kemudian diisi oleh Nugraha dan Biru. Sosok Binta dalam novel sastra ini lagi kehilangan langitnya, namun ia mampu mendapat yang lebih baik dari langit, yaitu awan dengan segala cerita baru yang indah di dalam dunianya.

Novel sastra ini memperlihatkan cinta yang tak perlu sebab musabab. Sebab cinta, memang tidak bisa didefinisikan oleh kata-kata. Sesederhana itu rintik sendu membuat alur cerita ini. Membuat kita ingat akan legenda sastra eyang Sapardi Damono dalam memaknai cinta yang sederhana.

https://twitter.com/BeartIndonesia/status/1197065288136581120?s=19

Novelis Rintik Sedu nama Pena dari penulis Tsana ini terinspirasi dari eyang Sapardi. Dapat kita lihat dalam aneka sesi talkshow dengan Rintik Sedu, begitu ia menyukai dari Pak Sapardi. Bahkan kini, Rintik Sedu dapat berkolaborasi dengan eyang Sapardi dalam buku puisi lintas generasi berjudul ‘masih ingatkah kau jalan pulang’.

“Andai bisa sesederhana itu, aku tidak akan pernah mencintaimu sejak awal. Aku tidak akan mengambil risiko, mengorbankan perasaanku. Namun, semua ini diluar kendaliku.” — Nugraha.

“Banda Neira adalah hari-hari terakhirku bersamamu. Kutitipkan segala rindu, cerita, dan perasaan yang tak lagi kubawa, lewat sebuah ciuman perpisahan. Berjanjilah kau akan melanjutkan hidupmu bersama laki-laki yang bisa menjaga dan menyayangimu lebih baik dariku.” — Biru.

“Cinta pertama seorang perempuan yang didapat dari laki-laki adalah dari ayahnya. Dan cinta pertama itu, telah mematahkan hatiku. Ayahku sendiri membuatku berhenti percaya dengan yang namanya cinta. — Binta.


Baca juga:


Berlatar tempat romantis di kampus, binta termasuk perempuan yang lagi rapuh karena masalah keluarga belum lagi cinta lamanya. Datang sosok Nugraha yang biasa dipanggil Nug untuk mencoba mengisi hati Binta. Namun Binta merupakan sosok yang kaku, dan membuat Nugroho harus berjuang keras.

“Nugraha, Biru, dan Binta saling membelakangi dan saling pergi. Mereka butuh kata-kata untuk menjelaskan perasaan. Mereka harus bicara dan berhenti menyembunyikan kata hati serta mencari jawaban dari sebuah perasaan.” – Rintik Sedu

4. Novel Sastra ‘Konspirasi Alam Semesta’

Konspirasi Alam Semesta
Novel sastra konspirasi alam semesta

Konspirasi Alam Semesta ini sebenarnya merupakan albuk. Jadi novel ini punya pelengkap sebuah album lagu. Album yang terdiri dari beberapa lagu yang liriknya bisa ditemukan di dalam rangkaian cerita novel ini. Membaca sambil mendengarkan lagu yang senapas pastinya jadi pengalaman yang menarik.

Dalam novel sastra ini, Juang merupakan sosok tangguh dan pantang menyerah. Dengan jiwa petualangan dan rasa kemanusiaan antar sesama yang tinggi. Ia memiliki ayah seorang eks tapol, ia juga memiliki berbagai pengalaman tak menyenangkan dengan ayahnya. Hal tersebut tak pelik membuat hubungan dengan ayahnya sendiri berasa berjarak. Hubungannya dengan sang ayah begitu dingin dan kaku sekali. Hanya ibunya yang membuat Juang merasakan rumah sebenarnya. Tempat kembali dan mendekap untuk ketenangan.

Perjuangan panjang Ana dan Juang dalam menjaga dan mempertahankan hubungan ini tak bisa dikatakan semudah itu. Sampai suatu saat, kala Ana mengalami sebuah penyakit yang membuat ia berusaha untuk menutupi diagnosa tersebut. Belum lagi saat muncul kesalahpahaman lainnya. Ada kesabaran perlu di uji di sini.

Sudah lima bulan Ana ditinggal suaminya. Namun dia tidak sendiri, dia ditemani dengan seorang malaikat kecil – Ilya Astrajingga. Rupanya cantik seperti ibunya, namun dia juga mendapakan alis dan mata seperti ayahnya. Ia menatap buah hatinya. Kenangan tentang sang petualang akan selalu tinggal bersamanya. Kini, jejak dari segala jejak hadir di raut wajah makhluk mungil yang sedang tertidur. Bukan lagi hal yang perlu diratapi melainkan sebagai hal yang wajib disyukuri.

Juang yang merupakan seorang jurnalis kemudian harus berpisah dengan Ana. Dia pergi ke tanah Papua untuk membuat film dokumenter dan menelusuri jejak sejarahnya. Menjalin hubungan jarak jauh, keduanya berusaha untuk tetap menjaga komitmen. Bahkan Juang rutin mengiriminya kabar dan pesan. Sampai suatu hari tak ada lagi pesan yang diterima oleh Ana.


Baca juga:


Novel ini mengangkat topik keluarga, harapan, dan kekecewaan Juang dalam membahagiakan ibu tercintanya. Orang tersayang dan perempuan penguat dirinya. Lebih dari itu, kisah cinta dan perjalanan di alam cukup menginspirasi kehidupannya. Dari seorang Juang, kita diajak belajar kemanusiaan, kepedulian, dan rasa cinta kepada tanah air.

Perjalanan di semesta masih panjang, Bagaimana kelanjutan cerita dari Ana dan Juang nanti?

5. Novel Sastra ‘Hujan Bulan Juni’

Legenda Sastra Indonesia, eyang Sapardi Djoko Damono merupakan penulis yang masih aktif berkarya hingga hari ini. Buku novel sastra ‘Hujan Bulan Juni’ termasuk salah satu novel trilogi karya beliau yang juga paling banyak diburu. Manis-getir kisah Sarwono dan Pingkan dituangkan begitu penuh makna oleh eyang Sapardi. 

Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono
Novel sastra hujan di bulan juni

Hujan Bulan Juni tidak berhenti begitu saja dalam kumpulan puisi, tapi juga sudah berubah dalam adaptasi ke layar lebar. Dimana film tersebut diperankan oleh Adipati Dolken dan Velove Vexia. Hal ini, membuat eyang Sapardi melahirkan karya lain berupa buku non-fiksi berjudul ‘Alih Wahana

Buku ‘Hujan Bulan Juni’ ini menceritakan kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan dalam alur budaya yang berbeda didalamnya. Berbeda dari suku dan agama. Kisah klasik yang dikemas secara modern, alur yang mudah untuk diikuti, kata-kata sederhana yang dalam. Sederhana dengan cerita romantis yang realistis.

Tokoh dalam buku ini, Sarwono kecil yang hidup dalam pusaran adat dan budaya Solo, dengan aneka kultur budaya orang Jawa. Sedangkan Pingkan, campuran antara Jawa dengan Manado. Ibu Pingkan juga memiliki darah campuran dari keturunan Jawa yang lahir di Makassar, sedangkan bapak Pingkan berasal dari Manado. 


Baca juga :


Mereka berdua tidak mempersoalkan dengan berat perbedaan suku dan keyakinan yang berbeda ini. Sosok Sarwono yang sangat taat pada agamanya (Islam), dan sosok Pingkan yang juga meyakini agama (Kristen) sepenuh hati. Mereka merupakan sosok manusia yang menjalani keyakinan dengan baik dan tergolong taat.

Sebelumnya novel ini merupakan kumpulan puisi yang kemudian dialih wahanakan—bahasa eyang dalam perubahan karya— ke bentuk novel yang judulnya pun juga sama. Di simak dari Gramediapustaka, kumpulan puisi ‘Hujan Bulan Juni’ telah di alih bahasakan ke dalam empat bahasa yaitu Inggris, Jepang, Arab, dan Mandarin.


Graphic Designer: Nur Aviatul

Content Writer: Rejazer

Editor: Fathan


Salam kreatif selamat berkarya

Beart.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *