Menu Tutup

Hadapi Pandemi, Ini Advokasi Bersama Koalisi Seni Untuk Keberlangsungan Ekosistem Seni

cover beart

Diskusi Publik Koalisi Seni Untuk Advokasi Secara Virtual, Demi Mendukung Bertahannya Ekosistem Seni di tengah Pandemi.

Koalisi Seni mengajak para pegiat dan penikmat seni di seluruh Indonesia untuk mengikut Diskusi Publik Secara Virtual bertajuk Menjaga Nyala Seni Semasa Pandemi.

Diskusi ini bertujuan untuk mendorong pemerintah dan swasta bersamaan untuk mendukung ekosistem seni agar bertahan di tengah Pandemi COVID-19. Karena mengapa? Seni berperan dalam menumbuhkan dan memelihara resiliensi masyarakat saat menghadapi krisis.

“Idealnya pemerintah dan swasta dapat bahu-membahu memberikan bantuan dana pengganti pendapatan bagi seluruh pegiat seni terdampak COVID-19.”

Ungkapan Hafez Gumay, Koord. Advokasi Koalisi Seni yang beart.id terima.

Apalagi melihat dampak dari kebijakan pemerintah untuk menekan penyebaran pandemi ini. Berdampak nyata pada ekosistem seni. Hal ini menjadikan proses kreatif seniman terganggu, inspirasi terancam terhambat karena wajib tinggal di rumah. Bahkan, hampir semua kegiatan seni dalam tahap produksi maupun ekshibisi banyak yang tertunda.

Suarakan Advokasi bersama Koalisi Seni Untuk Menjaga Bertahannya Ekosistem Seni dalam masa Pandemi

Dari data yang dihimpun Koalisi Seni tercatat hingga 1 April 2020 terdapat sekitar 135 acara seni dibatalkan atau ditunda akibat pandemi. Acara ini terdiri dari 14 proses produksi dan rilis film; 69 konser, tur, dan festival musik; 1 acara sastra; 14 pameran dan museum seni rupa; 8 pertunjukan tari; serta 29 pentas teater, pantomime, wayang, boneka dan dongeng.


Baca juga


Data tersebut di dapat dari survey singkat  tentang acara seni yang batal melalui (bit.ly/acarabatal) yang diadakan oleh Koalisi Seni. Dan tercantum di laman koalisiseni.or.id/advokasi/seni-semasa-krisis/, yang diperbaharui secara berkala. Diharapkan diskusi ini menjadi bagian dari advokasi kebijakan Koalisi Seni untuk hadapi ekosistem seni ditengah pandemi.

“Pertama, memudahkan seniman agar tetap capat memproduksi karya. Ini dasar dilakukan dengan memastikan infrastruktur digital dalam kondisi prima agar para seniman dapat bekerja daring. serta memudahkan seniman mengakses ruang pertunjukan milik pemerintah maupun swasta untuk kebutuhan produksi. Agar seniman dapat bekerja di rumah, akses bahan baku produksi karya pun perlu dipermudah. ​​” tutur Hafez Gumai dalam advokasi bersam ini.

Kedua, memudahkan masyarakat untuk dapat mengakses karya seni. Caranya, menyediakan infrastruktur digital dalam kondisi prima dan terjangkau agar masyarakat dapat menikmati karya seni melalui internet. Pemerintah juga dapat menangguhkan atau mengurangi pajak seperti Pajak Hiburan dan Pajak Pertambahan Nilai untuk transaksi karya seni senior, agar deya beli masyarakat pulih.

Ketiga, menangguhkan kerugian yang ditanggung seniman akibat pembatalan dan menunda kegiatan seni. Pemerintah juga dapat menangguhkan atau mengurangi biaya sewa untuk kegiatan yang dibatalkan atau ditunda ai milik infrastruktur, serta tidak dapat membatalkan program pembayaran yang telah disiapkan. Pemerintah bisa juga memberikan insentif pajak dan retribusi bagi usaha di Bidang senior yang terdampak wabah COVID-19.

Pemantik dari disukusi ini adalah Hafez Gumai, Farah Wardani (direktur Jakarta Biennale) dan Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikikan dan Kebudayaan). Rethar Dungga, Manajer dari Koalisi Seni betindak sebagai moderator.

Berdasarkan siaran pers resmi yang diterima beart.id. Sabtu ( 4/4/2020 ) siang, gelaran tersebut telah dilaksanakan pada Senin, 6 April 2020, mulai pukul 14.00 wib – 16.00 WIB. Lihat isi dari presentasi para pemantik diskusi disini.


Penulis: Karimatus Sa’adah

Editor: Rejazer


Salam kreatif selamat berkarya

Beart.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *