Menu Tutup

Belajar Cinta sejati dari film Habibie & Ainun 3 : harus satu frekuensi.

Film Habibie & Ainun 3-beart

Habibie Ainun Movie telah sampai ke pelabuhan ketiganya. Di film Habibie Ainun 3 ini menceritakan karir, cinta dan perjuangan ibu Hasri Ainun Besari. Seorang wanita tangguh dengan tekad yang tak luntuh. Menjadi dokter ialah cita-citanya. Hingga beliau harus masuk fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam film ketiga ini ibu Ainun terlihat amat satu frekuensi dengan eyang Habibie, satu dalam merawat, membantu dan khidmat dengan tanah air Indonesia.

Saya bukanlah wanita
Tapi saya bagian dari indonesia
Walaupun saya diinjak-injak
Tetapi saya hanya ingin menjadikan
Indonesia sejahtera

Hasri Ainun Habibie

Terlihat betul hidup di zaman penjajahan, para wanita seolah dianggap sepele dalam segala hal. Hingga merdeka pun, ibu Ainun terlihat masih saja diremehkan. Scene ini terlihat di saat ibu Ainun menempuh perjuangan Kedokteran UI.

Di mulai dari Ospek Mahasiswa Baru hingga babak perkuliahan. Ibu Ainun merupakan wanita pintar yang diakui maupun tidak. Serta kebaikannya dalam membantu sesama manusia telah terbukti. Menjadi dokter untuk membantu sesama manusia, membantu merawat tanah airnya. Satu frekuensi dengan eyang Habibie.

Perempuan di masa kemerdekaan Indonesia masih jarang lantang suaranya. Meskipun Indonesia sudah merdeka. Ragu, bimbang, dan memilih aman. Mungkin itu yang terjadi di bayangan Perempuan Indonesia saat itu.

Berbeda dengan ibu Ainun, beliau berani memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan. Seperti layaknya ibu Kartini memperjuangkan Emansipasi Wanita di era penjajahan menjarah Indonesia.

Antara Cinta atau nafsu

“Suatu hari nanti kita akan bertemu di dimensi yg berbeda”


Ucap bu Ainun sebelum harus berpisah dalam menempuh masa depan masing-masing.

Melihat beliau, seperti melihat remaja pada umumnya di film ketiga ini. Menceritakan kisah Eyang Habibie SMA dengan ibu Ainun. Harus berpisah di masa menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ibu Ainun menempuh Kedokteran di Universitas Indonesia. Sedangkan eyang Habibie harus ke Jerman menempuh pendidikan dirgantara.

Tangkapan layar ketika menonton Habibie & Ainun 3
Tangkapan layar ketika menonton Habibie & Ainun 3

Film Habibie & Ainun ketiga yang menceritakan kisah-kasih ibu Ainun kepada Ahmad, mahasiswa hukum UI. Singkat cerita Ahmad merupakan mahasiswa yang cukup pintar dengan pemahaman tentang social culture di Indonesia. Dan sering membandingkan kehidupan di luar negeri dan tanah air kepada Ainun muda.

Mereka akhirnya sering jalan, diskusi dan menjadi kekasih kala muda. Ahmad yang ternyata anak dari dosen favorit Ainun ini tak lantas membuat hubungan mereka langgeng. Ya kan akhirnya ibu Ainun sama eyang Habibie.

“kita berada di dalam buku yang sama. Namun, pada halaman yang berbeda.”

sepatah kalimat penutup dari Ainun kepada Ahmad.

Antara cinta dan nafsu akan menjadi perbedaan yang tipis. Cinta dengan nafsu akan menjadi dusta jika tak terawat baik. Namun, cinta itu ikhlas. Betul ikhlas tanpa paksaan, tanpa mengharapkan imbalan dan tanpa pengorbanan. Cinta itu tumbuh karena ada yang perlu diperjuangkan bersama. Bukan cintanya, melainkan visi misi yang sama dari sepasang kekasih itu.

Karena dua manusia berbeda itu akan menjadi satu nantinya dalam hubungan kekal abadi pernikahan. Kalau tidak setujuan hidup bersama, ya bakal berantakan. Seperti negara Indonesia yang akhirnya bisa merdeka karena orang-orang nya sudah satu frekuensi semua dan siap merdeka bersama. Selayaknya eyang Habibie membuktikan satu frekuensi cintanya kepada ibu Ainun.

Keikhlasan eyang Habibie mencintai ibu Ainun bukan hanya nafsu belaka. Beliau ikhlas mencintai setulus hati. Rela berjuang bersama-sama menjalin kasih dan hidup. Hidup panjang mereka satu frekuensi, yaitu merawat Indonesia dan berguna bagi sesama makhluk kehidupan. Seperti yang saya jelaskan diawal paragraf artikel ini.

Banyak perempuan hari ini mendambakan kekasih pujaan hati seperti eyang Habibie. Namun, sebagian dari mereka lupa akan menjadi ibu Ainun untuk eyang Habibie. Sepantasnya kita akan ditemukan dengan orang-orang yang sama.

“seindah dan sedramastis apapun kisah kita dengan seseorang, jika belum satu frekuensi, sama saja.”

B.J. Habibie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *