Menu Tutup

Cerpen “Desa Ke Kota, Kota Ke Desa” karya Bandhu Manhistha – Beart VAE

desa ke kota cover beart VAE

Cerpen “Desa Ke Kota, Kota Ke Desa” karya Bandhu Manhistha dalam pameran daring Beart-VAE. Selamat mengapresiasi, salam kreatif. Mari baca cerpen desa ke kota, kota ke desa karya Bandhu Manhistha.

Mentari tampak samar terlihat di ufuk timur dan bulir-bulir embun menunjukkan dirinya pada setiap dedaunan di Desa itu. Pagi itu tampak gerombolan tetangga dan para sahabat yang sedang berkumpul di depan kediaman seorang petani.
Slamet, seorang anak desa yang sedari kecil hidup pas-pas an di desa petani itu, kini sudah menginjak usia 18 tahun. Tepat sebulan yang lalu keluarga kecil itu mendapatkan kabar gembira dari pihak Universitas di Ibu Kota. Anak semata wayang mereka Slamet, dinyatakan diterima melalui jalur undangan di Universitas Negeri ternama di Ibukota.

Sontak keluarga itupun terharu , anak semata wayang yang mereka besarkan selama ini berhasil di terima di Universitas ternama yang terkenal dengan seleksi ketatnya dan yang paling diincar oleh hampir seluruh calon mahasiswa di Negeri itu. Kebahagiaan mereka bertambah manakala anak mereka mendapatkan beasiswa penuh selama 4 tahun dari Negara.
Dan pagi itu adalah pagi dimana Slamet akan mengawali mimpinya, dan juga mengemban amanah dari seluruh warga desa. Dalam sejarah panjang desa itu , tak pernah ada satupun warganya yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi hingga ke jenjang Universitas. Jangankan mengenyam pendidikan ke tingkat Universitas, berhasil lulus SMA pun mereka sudah bersyukur.

Karena nyatanya, kebanyakan warga di desa hanya lulusan Sekolah Dasar dan hanya mampu menyekolahkan anak mereka hingga ke jenjang SMA. Bahkan masih bisa ditemui warga yang buta huruf di desa itu, walaupun jumlahnya tak banyak.
Alih-alih untuk bersekolah setinggi-tingginya mereka lebih memilih untuk menggarap lahan persawahan menggantikan orang tua mereka.

Banyak sekali diantara mereka yang sebenarnya ingin bersekolah di Universitas, namun faktor ekonomi menjadi penghambat mereka. Selain itu sedikit sekali yang mempunyai kemampuan akademis yang merupakan syarat utama diterima di Universitas. Hingga akhirnya, semua itu terpatahkan saat warga mendengar berita diterimanya Slamet di Universitas ternama itu.

Kini desa petani yang miskin itu berharap jika kelak selepas menempuh studi di Ibukota. Slamet dapat menularkan spirit dan pemikiran bagi warga desa terutama bagi teman-teman sebayanya yang tidak seberuntung Slamet.

“Et, kuliah seng tenanan. Ben kowe iso ngubah deso iki kanti maju”
“Nggih Pak”
“Ojolali sholat 5 wektu tetep dijogo yo le”
“Nggih Buk, nyuwun pandonganipun Bu”
Pak Kades dan warga desa pun berkerumun mengantarkan kepergian Slamet. Tak lupa Bagyo, Karto, dan Tono pun turut hadir mengantarkan keberangkatan sahabat mereka.
“Lur , aku pamit budal kuliah yo. Titip Ibu lan Bapak”
“Wes to, tenang ae. Bapak lan Ibumu bakal tak tiliki saben dino. Awakmu seng tenanan yo nek kuliah” sahut Bagyo dengan penuh semangat.

“Met, aku iki ora pinter koyok awakmu. Ning aku ki sebenere yo pengen iso sekolah duwur koyo awakmu iku. Nek kuliahmu prei ojolali mampir , ajarono aku ilmu seng mok oleh soko Kuto yo Met!” sahut Tono.

Karto yang pendiam pun tampak berkaca-kaca saat melepas kepergian teman dekatnya. Entah sedih karena terharu atau sedih karena Slamet tak kunjung membayar utangnya tempo hari. Ia genggamkan bekal makanan pada tangan Slamet untuk dibawa saat perjalanan nanti. Dan berangkatlah Slamet dengan diantar mobil pinjaman dari Pak Kades.

………………

Cerpen Desa Ke Kota Berlanjut

Kuliah semester awal pun dimulai. Slamet, anak desa yang tak pernah mendapatkan kemewahan belajar pun dibuat terheran-heran dengan segala fasilitas yang ditawarkan oleh kampus tersebut.

Dalam hal pergaulan, Slamet si anak desa yang tak tahu menahu sama sekali dengan lifestyle Kota pun dibuat terheran-heran olehnya. “Edann! wong Kuto ki pacakan e medeni ngene yo cah. Enek seng belekan e dodo ketok, enek seng suwal e disuweki. Jan edan tenan! Ora teko aku!”.

Perlahan namun pasti, Slamet pun tampak mulai mengikuti arus. Ia mulai berkawan dengan teman-teman dari Kota. Berdandan seperti mereka, makan seperti mereka, minum seperti mereka, dan berak pun seperti mereka. Semua Slamet ikuti termasuk pola pikir mereka yang terlampau modern. Nilai-nilai dan petuah leluhur pun perlahan tercecer berganti dengan pola pikir yang cenderung western centric.

“Ahh enaknya jadi anak Kota, semua serba modern. Ga kayak si Bagyo, Karto dan Tono yang norak”. Empat semester terlewati, Slamet tak kunjung menunjukkan batang hidungnya di Desa itu. Ibu dan Bapak pun harap-harap cemas menanti. Pun 3 serangkai juga nampak cemas menanti kepulangan Slamet. Saat ditelpon Slamet selalu beralasan jika tugas dan proker organisasi menyibukkannya hingga tak bisa pulang ke kampung.

Hingga siang hari itu, Nampak pintu rumah Slamet diketuk oleh seseorang entah siapa. Tok..tok..tok. Pintu kemudian dibuka oleh Ibu dan betapa terkejutnya Ibu saat melihat sesosok manusia dengan dandanan necis seperti itu.

“Ini Slamet Bu, anak Ibu”
“ Woalah … Slamet to! Macak model opo to le…le… awakmu iki? Wes ayoh mlebu, tak cepakne mangan ”
Kabar kepulangan Slamet pun terdengar oleh tiga serangkai. Malam harinya pun mereka menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Slamet.

Sinar rembulan dan dengung suara jangrik mengiringi langkah tiga serangkai saat hendak melepas rindu dengan sahabatnya yang merantau di Ibukota. Begitu kagetnya mereka saat Slamet mulai keluar dari dalam rumah dan menghampiri tiga serangkai itu. Sebuah dandanan casual ala remaja Ibukota turut dipertontonkan Slamet kepada tiga serangkai layaknya pragawati yang memamerkan busana di Catwalk.

“Wediangggg! Pacakanmu mbuois ngene malihan Met!” Sahut Bagyo yang tampak kaget melihat dandanan Slamet.
“Iyo lur, 2 tahun kuliah neng Jakarta mundak mbois ngene awakmu Met” Tono mulai memuji.
“Iyalah, kuliah jauh-jauh ke Jakarta masa iya dandanan masih kayak anak kampung. Hahaha” Sindir Slamet dengan nada sinis.
“Wihh, omong gae boso Jowo ae opoo. Awakmu wes lali opo piye mbek bahasa Ibumu dewe?” Bentak Bagyo
“Ya, gimana ya, inget sih sebenernya tapi kebiasaan ngomong kayak gini yaudah mau gimana lagi”

Karto si pendiam pun hanya geleng-geleng kepala melihat gelagat si Slamet yang tampak berubah sama sekali. Seolah Ia tak melihat sosok sahabat yang dulu sering diajaknya untuk angon kebo atau sekedar mandi di kali. Kali ini Ia lihat sosok anak Kota yang dibentuk dengan pola pikir modern dan dibalut pula dengan lifestyle yang katanya “kekinian”.

Tono pun berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan bertanya pada Slamet tentang pengalamannya selama kuliah di Jakarta. Slamet pun menjelaskan panjang-lebar tentang 2 tahun masa kuliahnya dan juga pengalaman organisasi serta pergaulannya selama di Jakarta. Tiga serangkai pun hanya mangut-mangut setengah paham ketika mendengarkan penjelasan dari Slamet tersebut. Karena memang gaya bahasa Slamet sengaja Ia tinggikan dengan segala kosakata yang tak dapat dimengerti oleh tiga serangkai itu.

“Aku tuh sebenarnya heran dengan pola pikir orang kampung disini”
“Opoo emange Met?” sahut Bagyo.
“Ya aku heran aja, kenapa sih kebanyakan dari mereka masih menetap disini dan akhirnya cuma jadi Petani atau buruh tani yang untungnya gak pasti. Kalau saja kebanyakan dari mereka merantau ke Kota dan belajar kayak aku gini. Pasti desa ini jadi semakin maju dan modern, gak kayak sekarang”
“Loo maksudmu opo Met! Wong neng kene iku dadi Tani yo kanggo nguripi Negoro. Nek raenek wong tani Negoro ape mangan sego teko ndi jal” bentak Bagyo yang tampak emosi mendengar pernyataan dari Si Slamet.

“Yaelah, urusan beras mah Pemerintah bisa impor dari Vietnam kan? Harga nya lebih murah lagi. Dan pastinya kualitas jauh lebih baik dari yang dihasilkan sama petani disini kan”
“Tapi dadi wong tani iku warisan teko leluhur Met, dadi kudu tetep dijogo” sahut Tono
“Nah ini nih, masih percaya sama mitos-mitos leluhur . Gak intelek banget. Pantes desa ini gak maju-maju, wong pemikiran warganya aja masih kayak gini” Bantah Slamet dengan nada menggurui.

Slamet pun terus saja melanjutkan ceramahnya dengan membicarakan teori-teori yang copy paste dari mulut dosennya yang belum tentu paham dengan realita di lapangan. Bagyo yang tampak emosi terus saja memalingkan muka saat Slamet mengucap sabda dalam kuliah umumnya di depan tiga serangkai itu.

Tono yang tampaknya paham dengan suasana hati Bagyo yang tak lagi nyaman pun ijin pamit untuk pulang. Karto si pendiam pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perangrai seorang yang mabuk ilmu bernama Slamet itu. Tiga serangkai itu pun pergi meninggalkan Slamet yang tampak puas dan bangga sehabis menceramahi tiga kawannya itu.

“Ncen bajingan Cah kui” bentak bagyo yang tampak kesal.
“Yo pie maneh, wong dee iku ancene cah kuliah. Mesti dee luweh paham” Sahut Tono.
“Cah kui mabok Ilmu Ton! Harapanku nek Dee kuliah iku ben iso mengedukasi warga desa ora malah nggoblokne warga desa koyok mau! Ncen bedes Slamet ki!”
“Wedanggg.. Gayamu ngomong edukasi. Koyok genah ae we ki” kelakar Tono.

Karto yang selama perjalanan diam tanpa kata pun terus saja menatap bintang-bintang di langit. Ia terus saja tatap bintang-bintang itu sembari mengingat kalimat yang sempat Ia baca dari buku Madilog milik temannya tempo hari. Dari mulutnya keluar lirih sebuah kalimat “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Sekian Cerpen Desa Ke Kota, Kota Ke Desa. Kalian juga ikut submisi karya di Beart-VAE. Cek syarat dan ketentuan disini!

https://www.instagram.com/p/CC8KIQYBWxc/?igshid=va187hnoo8ko

Penulis: Bandhu Manhistha

Editor: Muhammad Reza Rizky


Salam kreatif selamat berkarya

beart.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *