Menu Tutup

Gulung Tukar : memantik kembali pergerakan kesenian di Tulungagung

Cover gulung tukar-beart

Tulungagung – Pameran lintas seni sedang berlangsung di Tulungagung, bertajuk “Gulung Tukar” yang mana akan menjadi bagian dari Biennale Jatim 8. Sebuah pergerakan seni yang lagi dalam pengarsipan oleh para seniman di Jawa Timur. Tidak terlepas Tulungagung ikut ambil bagian dengan mengusung pameran “Gulung Tukar”. Diselenggarakan dari 27 Desember 2019 – 12 Januari 2020 pameran mengusung tema “Turunkan jangkar kembangkan layar”. Pameran pengenalan di Tulungagung yang diharapkan dapat berkelanjutan ke depannya.

Waktu judul dilemparkan ke publik, sempat banyak kontradiktif sih… Tapi, poinnya bukan disitu. Melainkan orang-orang yang ada disini akhirnya membuat kolektif terbuka dengan spontan. Terus kita berlabuh dulu, turun dulu, yang diluar kota pulang dulu, kita siap-siap cari modal nih, buat modal pameran kelanjutannya”

jelas Benny, kurator pameran “Gulung Tukar”
Proses display gulung tukar
Proses display karya

Dibalik pembuatan pameran ini sendiri memiliki harapan besar untuk meningkatkan kesenian di Jawa Timur dan Tulungagung khususnya. Dimana pameran ini memberi ruang untuk para pemuda seni untuk bisa menyajikan praktek-praktek keseniannya selama ini.

Baca juga:

Sekaligus menjadi pemantik untuk kegiatan berkelanjutan nantinya. Dengan terlihatnya pergerakan ini nanti bisa menjadi titik arsip dalam mengukur ekosistem seni di Jawa Timur. Dimana arsip pergerakkan kesenian di Jawa Timur harus ditingkatkan terus-menerus.

Kurasi dan seniman yang ikut berpameran

Daftar Seniman dalam Gulung Tukar
Daftar Seniman dalam Gulung Tukar

Karya yang masuk dalam pameran ini ada 42 Submission untuk pameran foto. Dengan submission seniman dari lombok, jambi, jogjakarta dan mayoritas dari Tulungagung. Untuk filmnya sendiri ada 6 karya film submission, beberapa film festival, dan film panjang seperti Kata-kata, Kucumbu Tubuh Indahku, Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya. Di dalam rangkaian pameran ini juga ada lokakarya seperti perangkai bunga, cukil kayu, dan bedah buku.

Suasana pameran Gulung Tukar (Doc. Gulung Tukar)

Pameran ini sendiri membuat konsep ruang galeri dengan merombak kafe, yang mana mereka ingin menyajikan atmosfer gallery pameran disini. Dimana tidak ada yang duduk didalam ruang pameran dan benar-benar mengapresiasi karya. Didikung dengan acara penunjang seperti : 8 Screening film dan 12 lokakarya, diskusi dan Talkshow.

Karena hal-hal seperti ini minim, bahkan mungkin sudah absen beberapa tahun. Bahkan kita dipaksa dengan adanya Jatim Biennale yang spontan juga. Dalam waktu satu bulan, ngumpulin orang, peserta, pengisi film dan harus diupayakan dan dipaksa. Setelah kita lakukan, muncul orang yang akhirnya kelihatan dan kita baru dapat berjejaring disini.

tegas Benny bercerita proses pameran ini lahir.

Karya yang masuk pun tetap melewati kurasi, dengan mengikuti tema dan konsep yang sesuai standardnya. Ada beberapa yang harus merevisi, menambahi, dan menyesuaikan dengan standard karya lain yang ditampilkan.

Semoga ini diterima, dengan konsep pameran yang tidak tinggi-tinggian dan “gass tok” seperti slogan dari Jatim Biennale. Serta menunjukkan aneka ragam jenis gaya fotografi, dan proses berkaryanya.

Tutup Benny mengakhiri wawancara kepada Beart.id

Dibalik aneka karya fotografi yang ditampilkan, kolaborasi kesenian lainnya juga ikut andil dalam pergerakan pameran Gulung Tukar ini. Berkolaborasi bersama untuk ekosistem pergerakan kesenian di Tulungagung dan Jawa Timur.


Pewarta : Daniel Sulung

Editor : M. Reza Rizky


Salam kreatif, selamat berkarya

Beart Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *