Menu Tutup

Mengenal Tetralogi Buru karya eyang Pramoedya Ananta Toer

Infografis tetralogi buru-beart

Salah satu legenda sastra Indonesia: Pramoedya Ananta Toer dengan karya Tetralogi Buru. Buku yang terbit selama masa orba ini telah mengalami masa pait dan pilu oleh penguasa pada saat itu.

Judul yang diberikan penerbit Hasta Mitra pada karya pertama Pramoedya Ananta Toer yang terbit sepulang ia dari Pulau Buru, Bumi Manusia, pada 25 Agustus 1980. Menurut Direktur Hasta Mitra, Hasjim Rachman, sebutan itu untuk:

(a) mengumumkan ke segala penjuru bahwa dari Pulau Buru pun lahir sesuatu yang positif, dan bukan hanya berita-berita sedih dan negatif;

(b) membedakannya dari semua karya Pramoedya sebelum ia ditetapkan, yaitu pra-1965. “(Hilmar Farid dalam Liber Amicorum, 2008: 79).

“Bumi Manusia; sebuah roman”

Buku pertama dalam tetralogi pertama Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di Pulau Buru. Diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra, Jakarta, Agustus 1980, 328 halaman. Dibahas oleh percetakan Aga Press. Dilarang Kejaksaan Agung RI Mei 1981. (KST). 

“Saya kira, terus terang, kedudukannya ambivalen. Pada satu pihak dikagumi, dibaca dengan luas, diterima sebagai orang yang menentang pemerintah yang tidak adil, tetapi pada pihak lain buku itu, terus terang, agak melodramatis. Bumi Manusia, demikian, yang dikunjungi oleh murid yang ja- tuh cinta pada seorang gadis suci, lalu kawin, dan dipisah- kan, ini cerita panji, cerita lama seperti buku Harlequin. ” (Harry Aveling dalam IBOEKOE: 27).

“Kalau yang dari Tetralogi, aku suka Bumi Manusia. Ini yang bagus. Idenya bagus, pro-Jawa tetapi anti-Jawa, prodemokrasi tetapi anti-Barat.” (Harry Aveling dalam IBOEKOE: 28).

Selama enam bulan diterbitkan, 23 Oktober 1980, buku tersebut dilarang oleh Kejaksaan Agung dengan alasan berisi propaganda ajaran Marxis Leninis yang terlarang. (Lane, 2008: xxii).

Buku ini sekarang menjadi salah satu karya sastra terbesar yang dimiliki bangsa ini. Buku yang tak pernah menyebutkan istilah ‘Indonesia’ ini telah menjadi karya Film “Bumi Manusia” dengan disutradarai Hanung Bramantyo.

“Anak Semua Bangsa”

Buku kedua dalam karya Tetralogi yang kali ditulis PAT yang ada di Pulau Buru. Diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra, Jakarta, Agustus 1985, 464 halaman. Dilarang Jaksa Agung RI. (KST)

Melanjutkan kisah perjalanan hidup Minke. Novel ini memaparkan pencarian jati diri Minke sebagai insan pribumi yang terjajah, tidak peduli tentang agung kekagumannya pada peradaban Eropa dan kepiawaiannya menulis dalam bahasa Belanda. Dibantu oleh kedua sahabat karibnya, Jean dan Kommer, Minke terus merajut satu persatu kognisinya. Meredupkan situasi saudara sebangsanya yang menjadi mangsa kolonialisme Belanda. Perjalanan ini harus dilewati Minke setelah hantaman psikologis akibat kematian Bunga Penutup Abad-nya, Annelies.

“Jejak Langkah”

Buku ke tiga dalam Tetralogi pulau Buru yang ditulis PAT. Diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra, Jakarta, Agustus 1985, 464 halaman. Dilarang Jaksa Agung RI. (KST)

“Rumah Kaca; sejarah Romawi”

Buku ke empat dalam tetralogi pertama PAT di Pulau Buru. (Tiga buku yang lain adalah: Bumi Manusia, yang ditulis Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah). Diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra, Jakarta, 1988, 359 halaman. Dilarang Jaksa Agung RI. (KST).

Sumber : Data diolah kembali tim redaksi Beart berdasarkan Buku Kamus Pramoedya Ananta Toer


Salam kreatif, selamat berkarya

Beart Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *