Mahasiswa baru harus nonton Film “Mau Jadi Apa?” nih, buat pengalaman menjadi mahasiswa

Film komedi tahun 2017 ini, cukup membawa ku merasakan suasana kampus kembali. Film ini diangkat dari diangkat dari kisah nyata komika sekaligus mantan jurnalis Soleh Solihun.Film ini mewakili kisah keseharian anak kosan era 90-an, bahkan masih relate dengan keadaan mahasiswa zaman sekarang. Film 90 an tersebut ialah Mau Jadi Apa? (2017).

Mau Jadi Apa? Tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 30 November 2017 lalu. Berbekal gelar alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Soleh Solihun dengan berbagai jenis pekerjaan sudah ia jejaki, beberapa diantaranya ia pernah bekerja di media Trax Magazine, Playboy Indonesia, hingga di majalah Rolling Stone. Setelah namanya menjulang di salah satu program Stand Up Comedy TV swasta, ia berinovasi untuk memutar kembali memori masa kuliahnya melalui film ini. Selain menjadi peran utama, Soleh Solihun juga berperan sebagai sutradara bersanding dengan Monty Tiwa.

Kisah di film ini berawal dari Soleh menjadi seorang mahasiswa baru FIKOM Unpad, Bandung. Ia menemukan spesies-spesies yang memiliki prinsip yang sama dengannya, sama-sama tidak tau mau jadi apa? Sehingga film ini mayoritas memainkan tokoh-tokoh di sekitar kampus. Kehidupan kampus yang heterogen juga diceritakan pada film ini, dimana setiap mahasiswa tidak hanya berasal dari kota yang berbeda, keluarga yang berbeda, namun juga tujuan pun berbeda. Film ini sekaligus menjadi kenangan selama dulu menduduki bangku mahasiswa dan menjadi pelajaran atau pengalaman untuk mahasiswa baru.

Soleh bersama lima kawan se-prinsipnya: Lukman, Marsyel, Eko, Fey, dan Syarif membuat sebuah majalah kampus bernama Karung Goni (singkatan dari Kabar, Ungkapan, Gosip dan Opini). Pada saat itu, Karung Goni menandingi majalah  tenar yang akrab dijuluki FakJat, Fakta Jatinangor. Majalah super serius dengan isu-isu politik yang telah mendominasi kampus lebih dulu.

Soleh sebagai pimpinan redaksi Karung Goni menggebrak teman-temannya untuk menciptakan berita yang lebih segar yang mereka rasa lebih patut menjadi bacaan anak FIKOM dibanding FakJat. Lika-liku kisah asmara, persahabatan, keluarga,  hingga nasib Karung Goni di atas tanduk, pada akhirnya dilewati Soleh dan kelima sahabatnya hingga mampu menemukan jati diri mereka masing-masing.

Opini mahasiswa Universitas Brawijaya, Shella Nur Azizah mengenai film ini,

“Menurutku film ini sangat relate banget ya sama kehidupan kampus. Ya anak Filkom juga yg ga jauh-jauh dari jurnalistik. Mengangkat ikon persahabatan, dan konfliknya dikemas menarik. Dimana kegalauan mahasiswa yg bingung ga bisa produktif dan membuat karya mungkin film ini bisa dijadikan sebagai acuan untuk menambah semangat mahasiswa untuk berproses.”

Baca juga:

Dominasi politik di fakultas ilmu komunikasi juga dibenarkan oleh Shella sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi

“Emang bener banget dikampus itu hanya isu politik yg menjadi headline. Padahal nggak semua mahasiswa menaruh minat di politik. Banyak bidang lain yg bisa diangkat”

“Terus buat kasus nya Soleh menurut aku ya untuk menerbitkan suatu karya atau majalah memang harus diusut secara tuntas biar kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan. Sumbernya juga harus jelas” tambahnya, menanggapi proses penerbitan majalah Karung Goni pada film ini.

Secara keseluruhan, Film suasana 90 an yang disampaikan lewat film Mau Jadi Apa? Sudah ‘ngena’ pada kalangan mahasiswa yang kebanyakan masih menggali jati dirinya. Walaupun realitanya, beberapa mahasiswa sudah menemukan dan mengetahui tujuannya setelah menyelesaikan jenjang perkuliahan. Namun semua itu kembali kepada alur kehidupan setiap mahasiswa yang tidak akan sama satu dengan lainnya.  Setiap orang akan menemukan waktunya mereka masing-masing sesuai porsi yang mereka butuhkan.

Penulis: Nisrina Habibah (@nisrina_habibah)

Editor: Rejazer


Salam kreatif selamat berkarya

beart.id

Melihat geliat film superhero Indonesia dari film Gundala

Film superhero tanah air memang belum begitu bergeliat adanya. Namun, penikmat yang menikmatinya amat banyak. Seperti film superhero garapan Marvel Cinematic Universe (MCU) dan DC memiliki basis fans menggeliat di tanah air. Baru-baru ini pendatang baru dari tanah air memperlihatkan geliatnya. Film Gundala, siap meramaikan dunia jagat film fantasi superhero di Indonesia. Film garapan sutradara Joko Anwar ini tergabung dalam Bumi Langit Universe. Tokoh-tokoh superhero lainnya pun siap bergantian tayang meramaikan bioskop tanah air.

Film ini tergolong membuat banyak perspektif pencinta film superhero menjadi semakin positif akan geliat superhero tanah air. Bahkan Bumi Langit Universe juga siap membawa film-film superhero terbarunya. Tokoh yang siap menyongsong Gundala ialah Sri Asih yang akan diperankan oleh Pevita Pearce.

Demam baik dan positif ini mari kita sambut dengan menonton dan menghargai karya para filmmaker tanah air. Agar mereka dapat memberikan hiburan yang berkualitas terus-menerus.

Kami bertanya ke teman-teman penonton superhero film Gundala, lihat ulasan mereka.

Film Gundala keren kok, terlepas dari CGI yang memang masih kurang buat film berlabel superhero sama plot cerita di awal yang banyak dikeluhkan terlalu singkat. Kalau kata Marchella F.P. “Selalu ada yang pertama kali dalam banyak hal.” meskipun Gundala juga bukan yang pertama-pertama banget. Kedepannya sih optimis kalau BCU bisa jadi salah satu medium buat pembentukan pola pikir masyarakat. Indonesia pernah punya nama macan asia bukan?

-Agam, Graphic Designer

Awalnya bagus, dari pengenalan karakter, cgi ya notbad lah, cenderung ke bagus. Tapi pas menuju akhir malah agak kurang gitu. Apalagi pas bagian fightscene yang ngumpulin beberapa anak pengkor itu. Kesannya kaya lambat bgt adegannya. Apalagi pas bagian fightscene lawan pengkor dan beberapa anaknya. Kesannya kaya maksa banget. Dan fight-nya lambat. Tapi overall bagus buat pembuka universe lainnya

-Fasha, Graphic Designer


Salam kreatif selamat berkarya

beart.id

Film Series “Sementara, Selamanya” Debut Reza Rahadian Jadi Sutradara Film

Di kala musibah Pandemi seperti ini membuat aneka industri terdampak sebagai korbannya. Tak terkecuali aktor senior, Reza Rahadian. Walaupun kondisi menghadang, Reza Rahadian berusaha untuk dapat menggarap film produksinya sendiri ini. Miniseri karya terbarunya ini ia beri judul ”Sementara, Selamanya” terdiri dari 6 episode. Rencananya, film itu akan tayang perdana di aplikasi Vidio mulai 6 Juni 2020 setiap Sabtu dan Minggu.

Kali ini ia tak hanya menjadi aktor seperti biasanya, melainkan juga merangkap menjadi sutradara sekaligus pemeran utama dalam film yang digarapnya. Reza Rahadian juga menggandeng bintang film yang juga pernah berhasil meraih Piala Citra yakni Laura Basuki sebagai Zara, Ruth Marini sebagai Sri, Christine Hakim sebagai Ibu, dan beberapa tokoh lain yang terlibat.

Film ini juga membawa soundtrack musik dari karya peri kecil Nadin Amizah. Seperti yang diketahui Nadin baru saja berulang tahun dan menghadiahi kita semua dengan album terbarunya yang berjudul “Selamat Ulang Tahun“. Apakah lagu dari album terbarunya akan nampak dalam film ini? Jawabannya kita pun juga belum tahu, biarkan menjadi misteri dulu ya. Biar jadi kejutan kala nonton filmnya nanti.

Cerita singkat Film Sementara, Selamanya dari Reza Rahadian dan Ika Natassa

Judul film “Sementara, Selamanya” terdengar unik bagi kita. Dimana judul dibuat sangat relevan dengan apa yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini yakni wabah Covid-19 Ungkap Reza Rahardian. Dari obrolan singkat antara Ika Natassa dan Reza Rahardian, miniseri ini dilahirkan belum lama ini.


Baca Juga:


Film Sementara, Selamanya akan bercerita tentang kisah pasangan suami istri yang diperankan oleh Reza Rahadian sebagai Saka dan Laura Basuki sebagai Zara. Terlihat sosok Ika Natassa sang penulis naskah yang berusaha merespon kondisi Pandemi juga dalam isi filmnya nanti. Tunggu aja dah ya tanggal 6 Juni, jangan lupa langganan di apps Vidio.

Ika Natassa dalam konferensi pers Via Daring di akun Twitter Sementaraselamanya juga menceritakan judul film ini diambil dari perjalanan hidup kita sendiri yang merupakan jalan kisah atas berbagai peristiwa.

Ada hal-hal dalam hidup yang sifatnya sementara, ada juga sifatnya selamanya. Ada yang tadinya sementara kemudian selamanya. Ada yang kita rasa miliki selamanya tapi ternyata jadi sementara. Kondisi sekarang dalam wabah ini yang di capture Ika Natassa dalam Hubungan suami istri yang akan berpisah sementara atau bahkan selamanya kekal abadi. Jawabannya akan ada di film ini tambah Reza Rahadian serambi ketawa.

Proses film “Sementara Selamanya” ini sendiri berlangsung ditengah pandemi dengan menamatkan dua episode setiap hari. Pengambilan gambar dilakukan hanya selama tiga hari. Bukan perkara mudah, merangkap menjadi aktor utama dan produser dalam keadaan seperti ini telah diakui Reza Rahardian dalam Konferensi Pers via Daring. Beruntung, tim serta pemain sangat antusias dan bersemangat, bertemu tanpa kontak fisik. Proses syuting pun juga menerapkan protokol social distancing dan kesehatan yang berlaku.


Salam kreatif, selamat berkarya

beart.id

Menanti Kolaborasi eyang Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu serta alih wahana Geez & Ann ke medium film

Legenda Hujan, bisa disematkan kepada sastrawan Sapardi Djoko Damono. Aneka karya sastra dari puisi, sajak, opini, novel hingga buku pengetahuan telah ia lahirkan. Untuk terus dapat berkarya dan produktif eyang kali ini akan berkolaborasi dengan Tsana alias Rintik Sedu. Penulis muda dengan karya novelnya Geez & Ann.

Tsana yang memang mengidolakan eyang Sapardi harus dapat menyatukan ide-ide nya dalam satu karya buku. Dibantu editor @Sastragpu karya puisi kolaborasi Sapardi Djoko Damono dan Rintik sedu lahir tahun ini, seperti yang telah mereka janjikan.


Baca juga:


Akhirnya kolaborasi epik antara eyang Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu yang pertama “Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang” buku puisi awal tahun segera kalian dapatkan di Gramedia. Buku kedua kolaborasi lintas generasi ini ialah buku Trilogi. Seperti yang telah dijanjikan mereka, tertarik tuk membaca?

Rintik Sedu Alih wahanakan Geez & Ann ke medium Film

Karya lain Rintik Sedu yang akan meluncur ialah film Geez & Ann. Film yang diadaptasi dari novel ini akan ikut meramaikan Film Indonesia tahun 2020. Buku Geez & Ann 1, Geez & Ann 2 dan Buku Rahasia Geez.

Diperankan oleh Hanggini sebagai tokoh Ann. Tidak mudah untuk mencari peran Geez & Ann bagi Tsana. Kurang lebih butuh waktu setahun hingga dia dapat menurunkan imajinasinya dalam mengalih wahanakan tokoh-tokoh dibukunya menjadi tokoh peran untuk main di filmnya.

Sesuai ekspektasi Tsana yang menginginkan Hanggini yang harus memerankan Ann dan keinginan itu terkabul dalam konferensi pers film Geez & Ann yang diselenggarakan oleh MVP Picture.

Di tokoh Geez terpilih sosok Robets yang terbilang ada kesamaan tingkah laku yang dapat menyenangkan dan menyebalkan dalam satu waktu seperti yang Tsana sampaikan.

Yang paling penting, dia mau belajar dan gak malu buat nanya ini itu.

Ucap Tsana.

Sinopsis buku Geez & Ann

Ketika sepotong hati bertemu dengan sepotong hati yang lain, biasanya akan menjadi sebuah karangan cerita yang menyenangkan. Satu bertemu satu, lalu
jalan bersama, keduanya jatuh cinta, kemudian menjalin hubungan yang berujung bersama-sama.

Namun ketika sepotong hati, sepotong hati yang benar-benar kosong, bertemu dengan sebuah hati yang sempurna, kali ini aku tidak tahu akan menjadi apa. Separuh bertemu utuh, keduanya saling menatap, tatapan berbeda dengan makna yang juga berbeda.

Ada dua perasaan di sini, dua hati, yang misterius karena tidak pernah diketahui seperti apa isi dan bentuknya. Keduanya hanya tetap menjalani hidup, tidak pernah membahas yang detail mengenai perasaan, hanya menjalani.

Sedikit cerita Rintik Sedu di wattpadnya. Bingung kan? Baca dulu bukunya ya, sebelum harus menonton alih wahana buku ini ke film Geez & Ann.

Mana yang kalian tunggu ?


Salam kreatif, selamat berkarya

Beart.id

Tayang! Dokumenter film “Nyanyian Akar Rumput” untuk aktivis Wiji Thukul

Belajar tidak harus di bangku kampus atau sekolah tetapi bisa di mana-mana dan kapan saja: di perpustakaan atau membaca gelagat lingkungan atau apa sajalah pokoknya yang bisa mempertajam kepekaan penyair terhadap gerak hidup dirinya dan hidup di luar dirinya juga” dari pembukaan Wiji Thukul di buku Nyanyian Akar Rumput.

“Penyair haruslah berjiwa “bebas dan aktif”, bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya. Maka belajar terus menerus adalah mutlak, memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran akan sangat menunjang kebebasan jiwanya dalam berkarya. Dan fanatik gaya atau tema bisa dihindarkan sehingga proses kreatif tak terganggu.

Potret buku Nyanyian Akar Rumput

Penyair, penulis, dan aktivis Wiji Thukul ialah contoh semangat pemuda dalam memperjuangkan hak-haknya di masa orde baru. Dalam film ini diangkat dari buku puisinya Nyanyian Akar Rumput.

Nyanyian Akar Rumput ialah Pemenang Piala Citra untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia 2018. Film dokumenter ini dibuat selama kurang lebih empat tahun, mulai dari tahun 2014 hingga 2018. Mengikuti Fajar Merah (21 Tahun) putra Wiji Thukul – seorang sastrawan dan aktivis HAM yang “dihilangkan” pada tahun 1998 oleh Rezim Presiden Soeharto.

https://www.instagram.com/B7a03oJFZJl/

Film ini sudah rilis mulai kemarin (16/01) di berbagai bioskop Indonesia. Dengan tetap terbatas pada layar bioskop yang ada. Namun kalian dapat menyaksikan di daftar bioskop yang ada diposter diatas. Mari melihat geliat anak bangsa yang telah ikut andil dalam pergerakan negara demokratis. Supaya kita ikut melek dan mengawal peraturan-peraturan pemerintah yang berbau karet atau bakan menindas rakyat belaka.

Tanggal rilis: 16 Januari 2020 (Indonesia)

Sutradara: Yuda Kurniawan

Penghargaan: Piala Citra untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik 2018, Piala Maya best documentary feature 2019


Salam kreatif, selamat berkarya

Beart.id

Film “Awan” dari NKCTHI akan segera menemanimu di bioskop.

Official Poster Awan, alih wahana dari buku “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” karya Marchella F.P. sudah meluncur. Poster yang menarik dan keren banget ini akan menemani perjalan Awan melewati kehidupan, seperti yang dibayangkan Marchella dalam bukunya. Riuh kehidupan, mundur maju dalam kehidupan dan ketenangan hidup yang digambarkan Marchella dalam NKCTHI akan berubah menjadi hidup dalam Film “Awan”. Tayang lebih cepat di tanggal 2 Januari 2020, Awan akan menemanimu di bioskop kesayangan anda.

Film Awan “NKCTHI” sendiri ialah alih wahana dari karya tulis cerita panjang ibu kepada anaknya bernama Awan, karya dari Marchella. Rachel Amanda ialah sosok Awan yang dipilih sutradara Angga Dwimas Sasongko. Rachel sendiri menyatakan sebagai penggemar buku berkategori self improvement yang dikemas novel tersebut. Bahkan disimak dari instagram Marchella, ia sendiri sudah membayangkan sosok Rachel merupakan tokoh yang diincarnya dan ternyata sama dengan yang diinginkan oleh sutradara Angga Dwimas Sasongko.

Baca juga :

“Di pikiran saya ada dua orang yang cocok memerankan Awan. Mas Angga waktu itu menyebutkan nama Rachel dan saya langsung ya! Kita sudah satu frekuensi,”

Ucap perempuan yang biasa dipanggil Cecel ini.

“Kadang cukup itu lebih dari cukup”

Kata tertulis di buku NKCTHI

Sebuah kata dari @nkcthi yang menjadi buku dan mengantarkan Marchella menjadi write of the years 2019 dalam IKAPI awards. Marchella sendiri dengan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) meraih IKAPI awards kemarin dengan kategori penulis terbaik. Buku yang menjadi fenomena di Tanah Air ini sukses terjual 120 ribu eksemplar dan berada di jajaran 10 besar lebih dari 8 bulan lamanya.

NKCTHI Series #3

Visinema telah mulai memproduksi NKCTHI pada September 2019 lalu, didukung oleh IDN Media dan Blibli.com. Angga juga akan berkolaborasi dengan produser Hollywood, Michael Y. Chow, dari XRM Media. Sebelum melihat Awan tahun depan di bioskop, mending nonton filmseries Awan dulu di youtube.

Trailer film NKCTHI

Official Trailer

Salam kreatif, selamat berkarya

Beart Indonesia

3 Rekomendasi film Indonesia penutup tahun 2019

Eh tidak terasa sudah mau ganti kalender aja nih , tahun 2019 banyak banget film bagus yang bikin perfilm Indonesia bergerak lebih baik. Semoga di tahun depan industri film Indonesia akan semakin membaik lagi.

Etzzzz, jangan beranjak ganti tahun jika belum menonton film-film dipengujung tahun 2019. Masih banyak film yang bakal ikut meramaikan layar bioskop kesayangan anda. Langsung aja dah 3 rekomendasi film Indonesia penutup tahun 2019. Cekidot

1. Eggnoid

Poster Eggnoid

Film Eggnoid merupakan film yang diadaptasi dari komik digital webtoon karya Archie the Red Cat. Sukses dibaca jutaan pembaca webtoon dari berbagai aneka negara.

Eggnoid bercerita tentang sosok Eggy yang merupakan sahabat terbaik buat Ran. Kehadiran Eggy membuat Ran yang awalnya hidup penuh kesedihan, berubah jadi cewek yang ceria dan bahagia. Setelah dua tahun bersama, Eggy jatuh cinta pada Ran. Eggy bukan manusia biasa, ia Eggnoid yang dikirim dari masa depan. Jatuh cinta pada Ran akan membuatnya dikirim pulang ke masa depan dan berpisah selamanya dengan Ran.

Film Eggnoid sendiri dibintangi oleh aktor dan aktris seperti Morgan Oey, Sheila Dara, Kevin Julio, Luna Maya, Anggika Bolsterli, Reza Nangin, Martin Anugrah, Fatih Unru, Reuben Elishama, dan Marissa Anita.

Trailer Eggnoid movies

2. Habibie & Ainun 3

Poster Habibie & Ainun 3

Film ke tiga Hanung Bramantyo mengerjakan film tentang eyang B.J. Habibie, presiden ke-3 Indonesia. Tayang pada 19 Desember 2019, film ini siap menjadi saksi atas karir Ainun, cinta sejati eyang Habibie selama hidupnya.

Di film ketiga ini menceritakan kisah Ainun & Habibie dalam melewati masa mudanya. Diambil dari sudut pandang Ainun mulai sekolah hingga kuliah di kedokteran. Masa muda Ainun yang penuh perjuangan serta kegigihan dalam mengabdikan diri sebagai dokter.

Di 19 Desember 2019, kalian akan menjadi saksi atas perjuangan eyang Habibie & ibu Ainun dalam merajut kisah dan karir sepanjang hidupnya.

Trailer 2 Habibe & Ainun 3

3. Imperfect

Poster Imperfect

Film karya sutradara Ernest Prakasa imi menceritakan mengenai Rara (Jessica Mila) yang terlahir dengan gen gemuk dan kulit sawo matang, warisan sang ayah. Sementara, adiknya Lulu (Yasmin Napper) mengikuti gen ibu mereka Debby (Karina Suwandi) yang merupakan mantan peragawati tahun 1990-an.

Baca juga :

Rara sendiri bekerja sebagai manajer riset di sebuah perusahaan kosmetik. Meski mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitar, namun Rara mencintai pekerjaannya. Untung ada Dika (Reza Rahadian), kekasih yang mencintai Rara apa adanya.

Suatu hari, muncul peluang bagi Rara untuk naik jabatan di kantor, tapi bos Rara yakni KELVIN (Dion Wiyoko) mengharuskan Rara mengubah total penampilannya jika ia mau mengemban tanggung jawab baru ini. Berhasilkan Rara membuktikan dirinya ? Buktikan di bioskop kesayangan anda 19 Desember 2019

Trailer Imperfect movies

Kuy menengok bioskop

Salam kreatif, selamat berkarya

Beart Indonesia